Jambore Nasional Kebangsaan dan Kewirausahaan: Pemuda Al Washliyah Tempa Kader Beriman, Disiplin dan Cinta Tanah Air

Aminullah Siagian: Asmaul Husna di Tongkat Komando Simbol Kekuatan Jihad dalam Satu Kepemimpinan

IMG 20251101 WA0294

FORUM SIBOLANGIT | Di bawah langit sejuk perkemahan Sibolangit, sebuah simbol kepemimpinan berdiri tegak di tengah-tengah ribuan peserta Jambore Kebangsaan dan Kewirausahaan 2025. Tongkat komando milik Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) bukan sekadar benda hiasan—ia menjelma menjadi lambang disiplin, keteguhan, dan semangat juang ala prajurit bangsa.

Selama tiga hari, 31 Oktober hingga 2 November 2025, bumi perkemahan Sibolangit berubah menjadi arena latihan mental dan spiritual. Para kader muda GPA hadir dari seluruh penjuru Indonesia, membawa semangat nasionalisme yang berapi-api. Dari apel pagi hingga sesi kewirausahaan, suasana penuh disiplin dan semangat gotong royong terasa mengalir, seolah setiap langkah peserta diiringi gema perjuangan dan nilai kebangsaan.

IMG 20251101 WA0297

Namun sorotan utama bukan hanya pada pelatihan atau materi kebangsaan, melainkan pada Tongkat Komando GPA—ikon yang menjadi pusat perhatian. Dengan panjang 50 sentimeter, terbuat dari kayu eboni berwarna hitam pekat dan dihiasi ukiran Asmaul Husna, tongkat ini memancarkan aura khidmat. Di bagian gagangnya tersemat logo GPA berlapis emas—melambangkan kehormatan dan tanggung jawab besar bagi pemegangnya.

“Tongkat ini bukan sekadar simbol kekuasaan, tapi sumber kekuatan dan doa. Setiap ukiran Asmaul Husna mengandung harapan agar perjuangan para pemuda GPA diberkahi Allah SWT,” ujar Ketua Umum PP GPA, Aminullah Siagian, dalam amanat di acara jambore, Sabtu malam (2/11/2025).

IMG 20251101 WA0298

Bagi Aminullah, tongkat ini memiliki filosofi kepemimpinan sebagaimana dalam tradisi militer: hanya boleh dipegang oleh satu orang—komandan tertinggi. Dalam konteks organisasi, tongkat itu menjadi simbol satu komando, satu tujuan, dan satu perjuangan untuk bangsa dan agama.

Di sela kegiatan, para peserta juga disuguhkan pelatihan bela negara, kewirausahaan strategis, serta simulasi kepemimpinan lapangan. Semua dikemas dengan pendekatan kedisiplinan dan solidaritas, menciptakan suasana yang mengingatkan pada latihan dasar kemiliteran.

“Gerakan Pemuda Al Washliyah harus menjadi garda terdepan dalam membangun bangsa, sebagaimana prajurit yang setia pada amanah dan rakyatnya,” tegas Aminullah.

Screenshot 2025 11 01 22 56 46 93 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12

Suasana heroik juga tampak ketika para peserta menyanyikan lagu kebangsaan dengan sikap sempurna, mengibarkan bendera merah putih di tengah kabut pagi Sibolangit. Dentuman langkah tegap para kader seakan menggetarkan bumi, menandakan lahirnya semangat juang baru di tubuh pemuda Islam Indonesia.

Jambore ini bukan hanya ajang pembinaan, tetapi juga momentum strategis dalam memperkuat peran pemuda Al Washliyah sebagai pelopor ketahanan nasional dan kemandirian ekonomi, sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo.

IMG 20251101 WA02931

Dan ketika malam terakhir tiba, tongkat komando itu kembali diangkat tinggi—berkilau dalam cahaya obor, menjadi simbol sumpah juang dan komitmen pemuda Al Washliyah untuk terus menjaga nilai kebangsaan dan persatuan Indonesia.

Di Sibolangit, tongkat itu tak hanya berdiri sebagai lambang organisasi, tetapi sebagai “senjata moral” yang meneguhkan semangat kepemimpinan, disiplin, dan cinta tanah air.

Selama tiga hari, para kader ditempa dalam berbagai sesi: latihan kepemimpinan lapangan, pelatihan kewirausahaan, dan simulasi bela negara. Setiap kegiatan dibingkai dalam disiplin waktu, barisan, dan tanggung jawab.

IMG 20251101 WA0295

“Ini adalah bentuk latihan moral dan mental. Kita ingin GPA menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo—khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian bangsa,” ujar Aminullah.

Kegiatan jambore dimulai dengan apel kebangsaan dan munajat doa. Di tengah udara dingin Sibolangit, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, membuka kegiatan dengan suasana khidmat. Setiap peserta berdiri tegap, mengikuti dengan penuh konsentrasi.

Ketua Panitia, Imamuddin, memberikan laporan dengan gaya militer: singkat, padat, dan penuh tanggung jawab. Lalu, penampilan Pencak Silat As-Salam menambah suasana semangat. Gerakan tangkas para pesilat muda itu menggambarkan ketahanan fisik dan disiplin spiritual yang menjadi ciri khas kader GPA.

IMG 20251101 WA0296

“Organisasi ini adalah kawah candradimuka bagi generasi muda Al Washliyah. Seperti pasukan, kader GPA harus tangguh, siap mental dan fisik, serta berakhlak,” ujar Dedi Iskandar Batubara, Ketua PW Al Washliyah Sumut sekaligus Anggota DPD RI, dalam sambutannya.

Senator Sumatera Utara ini menegaskan pentingnya regenerasi dan kaderisasi dalam organisasi. “Layaknya pasukan tempur, GPA harus melahirkan kader tangguh yang siap mengabdi untuk bangsa.”

Suasana heroik mencapai puncak saat malam penutupan. Ratusan obor dinyalakan mengelilingi lapangan utama. Di tengah lingkaran, tongkat komando diangkat tegak lurus ke langit—disambut pekik takbir dan lagu kebangsaan.

Detik itu, suasana berubah menjadi layaknya upacara korps pasukan. Tidak ada tepuk tangan berlebihan, hanya sikap hormat, doa, dan tekad.

IMG 20251101 WA0356

Tongkat komando GPA kini menjadi simbol baru di tubuh organisasi itu. Bukan sekadar atribut seremonial, tetapi tanda satu komando, satu perjuangan.

“Seperti pasukan dalam satu barisan, GPA harus tunduk pada nilai disiplin dan komando moral,” tegas Aminullah dalam pesan terakhirnya.

Di bawah bendera merah putih yang berkibar gagah, para kader muda GPA berdiri tegap, menatap masa depan dengan semangat juang baru. Mereka bukan hanya generasi intelektual, tapi juga pasukan moral bangsa—yang siap menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keindonesiaan di setiap langkah perjuangan. (soeqri sitorus)