FORUM Tebing Tinggi | Dinas Kesehatan Kota Tebingtinggi membeberkan tren penemuan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam lima tahun terakhir yang menunjukkan angka fluktuatif namun masih cukup tinggi, dengan penyebaran tertinggi tetap didominasi populasi kunci Lelaki Suka Lelaki (LSL).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tebingtinggi, dr. Fitri Sari Saragih, M.Kes, saat dikonfirmasi FORUM melalui pesan WhatsApp, Jumat (8/5/2026), mempertegas bahwa HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius dalam sektor kesehatan masyarakat di Kota Tebingtinggi.
Berdasarkan data singkat yang disampaikan, jumlah penemuan kasus HIV tercatat sebanyak 87 kasus pada 2021, kemudian meningkat menjadi 97 kasus pada 2022, naik lagi menjadi 107 kasus pada 2023, sempat turun menjadi 83 kasus pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 110 kasus pada 2025. “Penyebaran HIV tertinggi masih pada populasi kunci LSL,” tulis dr. Fitri dalam pesan singkat WhatsApp.
Selain itu, Dinkes juga memaparkan capaian program nasional penanganan HIV/AIDS dengan skema 95-95-95 di Kota Tebingtinggi. Untuk target pertama, yakni penderita HIV mengetahui status kesehatannya, Dinkes menyebut indikatornya terlihat dari tingginya jumlah skrining yang dilakukan.
Sementara target kedua, yaitu pasien yang mengetahui statusnya dan menjalani terapi Antiretroviral (ARV) atau pengobatan rutin bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV), disebut telah mencapai 99 persen.
Sedangkan untuk target ketiga, yakni pasien dengan jumlah virus dalam tubuh berhasil ditekan hingga sangat rendah melalui pengobatan rutin, capaian Kota Tebingtinggi saat ini berada di angka 93 persen.
Sebelumnya, Dinkes Tebingtinggi juga telah mengklarifikasi bahwa jumlah 698 kasus HIV/AIDS yang ramai diperbincangkan merupakan angka akumulasi sejak 2013 hingga April 2026, bukan jumlah kasus dalam satu tahun.
Meski demikian, tren temuan kasus yang masih bertahan pada kisaran terbilang puluhan hingga lebih dari seratus kasus per tahun menunjukkan bahwa HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius di Kota Tebingtinggi.
Di sisi lain, tingginya angka skrining dan penemuan kasus baru juga dapat dibaca sebagai indikasi masih adanya kemungkinan kasus yang belum terdeteksi di masyarakat dan baru ditemukan setelah layanan skrining diperluas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian penting, terutama terkait penguatan edukasi pencegahan, pengurangan stigma, serta perluasan deteksi dini agar penyebaran HIV tidak meluas ke lingkungan masyarakat umum dan keluarga.
Pemerintah Kota Tebing Tinggi harus segera tegas menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat layanan konseling, pengobatan Antiretroviral (ARV), serta program pendampingan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV) melalui fasilitas kesehatan dan kolaborasi komunitas pendamping di Kota Tebingtinggi. (MET).







