“Saat Adidaya Retak dari Dalam, Kebijakan Prabowo Menghidupkan Cita-cita Bung Karno. Tapi Butuh 3 Dorongan Lagi.
04 Juli 2026, seharusnya pesta kembang api. Di Washington yang terdengar justru sirine peringatan.
Di atas panggung, Presiden Donald Trump mengulang satu kata: “komunis”. Ia menyebutnya penyakit yang harus dipotong.
Tiga hari sebelumnya, rakyat Amerika justru memilih “penyakit” itu. Di New York, Seattle, Denver, kandidat progresif menang.
Bukan karena cinta ideologi baru. Tapi karena kecewa. Kecewa rumah tak terbeli. Kecewa tagihan rumah sakit mencekik. Kecewa uang negara habis untuk perang, sementara jalan di kotanya berlubang.
Jeritan itu tidak berhenti di Amerika. Di Chile ada Gabriel Boric. Di Kolombia ada Gustavo Petro. Di Inggris, Partai Buruh menang telak. Di Spanyol dan Prancis, negara dipaksa kembali hadir.
Satu pesan yang sama: “Cukup! Ekonomi harus untuk rakyat!”
KETIKA “PENJUAL MIMPI” KEHABISAN DAGANGAN
Selama 80 tahun Amerika menjual 3 hal: dolar, kapal perang, dan “Mimpi Amerika”.
Kerja keras, maka kamu akan punya rumah, sekolah, dan masa depan.
Cerita itu laku. Karena nyata.
Kini ceritanya pudar di rumah sendiri. Harga naik. Kesenjangan menganga. Sementara uang terus mengalir keluar untuk membiayai perang.
Ketika “penjual mimpi” sibuk mengobati luka di dalam, dunia kehilangan penjamin. Laut yang dijaga bisa rawan. Perdagangan yang lancar bisa tersendat. Dan kekosongan itu tidak akan dibiarkan kosong.
GELOMBANG ITU AKAN MENGHANTAM INDONESIA
Kita tidak bisa pura-pura tuli.
Jika Amerika menarik diri, tekanan di Laut China Selatan naik. Natuna ada di garis depan.
Jika Wall Street panik, rupiah ikut oleng. Harga pangan dan energi impor ikut naik.
Jika dunia terbelah jadi blok-blok, Indonesia bisa terjepit. Dipaksa memilih, padahal kita ingin berteman dengan semua.
Asumsi “Amerika akan selalu baik-baik saja” sudah kedaluwarsa.
JAWABANNYA SUDAH LAMA ADA: BERDIKARI
70 tahun lalu di tengah Perang Dingin, Bung Karno berteriak: “Berdikari! Berdiri di atas kaki sendiri!”
Dulu kita kira itu slogan. Hari ini kita tahu itu ramalan.
Dan kompas itu sedang dipakai lagi. Arah kebijakan Presiden Prabowo hari ini berjalan di rel Berdikari.
Buktinya nyata:
1. Berdikari di Pangan : Program cetak sawah 3 juta hektar 2025-2029, lumbung pangan, dan makan bergizi gratis. Agar kalau kapal gandum telat, dapur kita tetap ngebul.
2. Berdikari di Energi : Dorongan panas bumi, baterai, dan target bauran EBT 23% di 2025. Agar kita tidak gemetar tiap harga minyak dunia naik.
3. Berdikari di Industri : Stop ekspor mentah. Nikel jadi baterai. Bauksit jadi aluminium. Nilai ekspor nikel olahan naik dari 1 M USD ke 30 M USD dalam 5 tahun. Agar lapangan kerja ada di desa kita.
4. Berdikari di Pertahanan : Kuatkan laut dan perbatasan. Ajak ASEAN jaga kawasan bersama. Agar keamanan kita tidak tergantung janji orang.
5. Berdikari dalam Keadilan : Perluasan sekolah, kesehatan, dan perlindungan rakyat kecil. Agar tidak lahir jurang kekecewaan seperti di Amerika.
JIKA KITA LAMBAT, KITA YANG RUGI
Arah sudah benar. Tapi kalau kita jalan biasa-biasa saja, ini skenarionya:
5 tahun lagi kita masih impor beras saat harga dunia $1000/ton. Kita masih jual nikel murah dan beli baterai mahal. Kita masih demo karena listrik padam dan pupuk langka.
Kekosongan kepemimpinan global tidak akan menunggu kita siap. Yang cepat, dia yang menang.
SUDAH BENAR ARAHNYA. SEKARANG BUTUH 3 DORONGAN
Karena itu kita harus injak gas lebih dalam. Ada 3 DORONGAN yang tidak bisa ditunda.
Pertama, DORONGAN DI DAERAH: “Komando Lapangan”
Program pusat sering mati di birokrasi daerah.
Turunkan tim khusus tiap 3 bulan. Evaluasi langsung gubernur dan bupati. Tolok ukurnya hanya 3: pangan murah, energi aman, industri jalan. Gagal 2x berturut-turut? Evaluasi jabatan.
Kedua, DORONGAN DI INDUSTRI: “Hilirisasi Kecepatan Cahaya”
Kita teriak hilirisasi, tapi pabriknya jalan merayap.
Bangun 10 Kawasan Industri Berdikari dalam 2 tahun. Fokus: baterai, pangan olahan, farmasi. Karpet merah penuh: izin 14 hari, listrik industri murah, pajak 0% 5 tahun pertama. Tujuannya satu: barang jadi di sini, kerja untuk anak bangsa.
Ketiga, DORONGAN DI KEPALA RAKYAT: “Sekolah Berdikari”
Rakyat tahunya MBG itu bantuan. Padahal itu strategi kedaulatan.
Masukkan ke kurikulum dan ruang publik. Anak belajar menanam, merakit panel surya, magang di pabrik. Jelaskan tiap minggu: “Ini bukan charity. Ini tameng agar anak cucu kita tidak dijajah harga dunia”. Bikin rakyat paham, bangga, dan ikut mengawal.
KEMERDEKAAN HARUS DITUNTASKAN BERSAMA
Apa yang terjadi di Washington adalah tanda zaman. Era satu negara mengatur dunia sudah selesai.
Di tengah perubahan itu, Indonesia punya bekal. Cita-cita para pendiri bangsa.
Presiden Prabowo sedang menjalankan cita-cita itu. Fondasinya sudah diletakkan.
Tapi Berdikari bukan kerjaan presiden saja. Petani yang menanam, guru yang mengajar, pengusaha yang bangun pabrik, kita semua yang pilih produk dalam negeri. Itu bentuk Berdikari kita.
Sekarang giliran kita: mengawal, mengkritisi, memastikan tembok Berdikari ini kokoh.
Saat Washington ribut ideologi, Jakarta harus kerja.
Kerja agar masa depan anak Indonesia tidak ditentukan harga di bursa New York.
Karena merdeka yang sejati bukan hanya bebas dari penjajah.
Tapi bebas dari rasa takut.
Dan rasa takut itu hanya hilang kalau kita benar-benar berdiri di atas kaki sendiri.
Penulis adalah Herianto, SE, pengamat ekonomi dan sosial







