OPINI  

Mendorong Kemajuan Desa Lewat Pesta Demokrasi, Solusi atau Sekadar Ilusi?

Sri Ramadani
Aktivis Muslimah, Sari Ramadani (foto: Ist)

“Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” (Abraham Lincoln).

Demokrasi adalah sebuah sistem yang katanya didasari oleh rakyat, segala sesuatu yang diputuskan pun berdasarkan kepentingan rakyat. Namun, benarkah demikian?

Baru-baru ini, Arpan Nasution S.Sos. selaku Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Padanglawas berharap bahwa pesta demokrasi di desa dapat menjadi inspirator dan motivator untuk bisa mendorong kemajuan desa. Hal tersebut disampaikan Sekda selaku Ketua Tim Monitoring Pilkades serentak Kabupaten Palas, di saat mendatangi beberapa desa di wilayah Kecamatan Sosopan pada saat waktu pelaksanaan Pilkades serentak.

Menurutnya, pilkades serentak ini merupakan salah satu bentuk untuk menyalurkan aspirasi dalam menentukan sebuah pilihan pemimpin desa untuk enam tahun ke depan. Selain itu beliau menambahkan, siapa pun yang terpilih dalam pesta demokrasi di desa, diharapkan menjadi pemimpin yang amanah, jujur, adil dan bertanggung jawab sehingga dapat mewujudkan seluruh aspirasi warga. (m.gosumut.com, 14/07/2022).

Pesta demokrasi sejatinya hannyalah sebuah teknik untuk memilih seorang pemimpin. Sebenarnya yang terpenting dari sini adalah sistem yang menjadi dasar dari teknik pemilihan tersebut. Ketika pemilihan umum (pemilu) tersebut dilaksanakan dalam sistem hari ini yaitu demokrasi yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utama dengan pilar kebebasan dan sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan sebagai asasnya, maka pemimpin yang terpilih jelas tidak akan menjadikannya sebagai pelayan masyarakat.

Justru yang akan lahir dari sistem hari ini adalah seorang pemimpin zalim yang menjadikan sewenang-wenang atas nama legalisasi penguasa terpilih. Penguasa yang terpilih akan menjalankan seluruh kepemimpinannya bebas tanpa adanya nilai dan aturan agama sebagai konsekuensi dari asas sekularisme yang diadopsinya. Bahkan yang lebih parahnya lagi, seorang penguasa yang dilahirkan dari rahim demokrasi akan menjalankan kekuasaannya berdasar manfaat semata menurut pandangannya dan kelompoknya. Karena itu biasanya, akan memunculkan banyak konflik kepentingan antara penguasa yang terpilih dengan masyarakat yang sudah memilihnya.

Tidak hanya itu, sistem yang hari ini sedang diterapkan yaitu demokrasi, akan menciptakan money politik, politik transaksional, serangan fajar atau sebutan lainnya yang sering kali berujung pada sebuah konflik. Tidak jarang juga ketika melihat di lapangan, seorang calon pemimpin tidak segan-segan mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada masyarakat pada saat kampanye karena tujuan yang ingin dicapai tidak terpenuhi, dia tidak terpilih untuk menjadi seorang pemimpin diskala tertentu.

Begitulah fakta mengerikan dari sistem demokrasi yang hari ini sedang diterapkan di seluruh negeri. Benar adanya jika sebuah sistem yang usang dan tidak layak pakai, tidak akan pernah melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah dan dapat mengayomi rakyatnya. Sebab, hal ini sudah berulang kali terjadi. Rakyat hanya diberikan janji-janji manis pada saat musim kampanye saja, setelah itu, rakyat dibiarkan dengan kesulitan yang sedang menjeratnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *