OPINI  

Kemiskinan Hilang hanya Angan-angan

kemiskinan220119
Potret kemiskinan. (foto:int)

Oleh: Sindi Laras Wari, SKM – (Aktivis Muslimah)

“Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Begitulah penggalan lirik lagu yang menggambarkan betapa kayanya negeri Indonesia, tetapi masih ditimpa masalah kemiskinan dan pangan karena menggunakan sistem kapitalis yang merusak.

Dalam pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G 20 Brasil, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa pada pemerintahannya kali ini memprioritaskan penanggulangan kemiskinan dan kelaparan. Bahkan anggaran besar dialokasikan untuk pendidikan pada masa pemerintahannya kini (presidenri.go.id, 19/11/2024).

Kemiskinan yang terjadi hari ini diharapkan dapat terselesaikan oleh pemerintah Prabowo, hal ini menjadi permasalahan sehari-hari yang dihadapi oleh Indonesia. Begitulah salah satu prioritas penanggalan permasalahan pada masa pimpinannya bahkan anggaran besar mengalir pada anak didik, maka dari itu terdapat program makan gratis yang merupakan bagian strategi agar para anak didik mendapatkan manfaat pendidikan.

Namun, pada sistem kapitalis kemiskinan mustahil dapat terselesaikan, karena sejatinya pada sistem ini yang berhasil menjadi orang berduit ialah para kapital atau para pemilik modal. Barang tentu sudah yang kaya semakin kaya yang miskin kian menjerit, ditambah lagi negara hanya berperan sebagai regulator saja. Seperti yang kita ketahui juga bahwa dalam sistem kapitalisme ini maka yang kuat yang akan menang.

Pasalnya kemiskinan hari ini akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Kekayaan alam yang seharusnya dikelola oleh negara dan keuntungannya dikembalikan kepada rakyat malah dibiarkan untuk dikelola oleh asing dan aseng tentunya dengan imbalan. Sehingga keuntungan yang diperoleh hanya dirasakan oleh segelintir orang saja, tentunya sang pemilik modal .

Amalia Adininggar, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, bahwa sektor pertanian menjadi penyumbang kemiskinan terbesar di Indonesia (tiroid.com, 22/11/2024).

Akibat ekonomi kapitalisme yang diterapkan menyebabkan kapitalisasi sektor pertanian. Harga pupuk kian meningkat dan sulit untuk didapatkan, ditambah dengan pembangunan yang semakin masif dilakukan. Sehingga berdampak pada sektor pertanian, lahan para petani terendam banjir apabila hujan telah tiba. Bagaimana ketahanan pangan dan kemiskinan bisa terwujud apabila para petani yang mampu membantu mewujudkan ketahanan pangan diselimuti oleh kemiskinan dan ketidakmampuan.

Pastinya tidak ada umat manusia yang mau menjadi seorang petani apabila selalu dalam garis kemiskinan, dan mereka yang para petani yang miskin sulit untuk bangkit kembali. Masalahnya sangatlah kompleks, biaya modal untuk menanam tidak kembali kepada mereka dikarenakan banjir melanda atau harga jual dari petani yang sangat rendah.

Pentingnya peran negara dalam mengakomodir para petani sehingga mampu mewujudkan ketahanan pangan dan mengentaskan masalah kemiskinan. Bukan makin dipersulit para petani mendapatkan kesejahteraan demi keuntungan para pemilik modal semata.

Hal ini sangat berbanding terbalik dengan negara Islam, di mana dalam negara Islam setiap warga negaranya memiliki jaminan kesejahteraan. Maka keamanan pangan dan kemiskinan hampir tidak dapat ditemukan, bahkan pada masa kekhilafahan harta negara melimpah ruah karena tidak ada umat yang miskin.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).

Sistem ekonomi dalam Islam meniscayakan negara memiliki sumber pemasukan yang banyak dan tidak membebani rakyat seperti di Indonesia saat ini di mana pemasukan terbesar dari pajak dan rakyat dipaksa untuk membayar pajak yang telah ditetapkan oleh negara.

Salah satu pemasukan terbesar negara Islam melalui sumber daya alam yang dikelola oleh negara dan keuntungannya akan dikembalikan lagi kepada rakyat, sehingga banyak fasilitas dasar seperti pendidikan dan kesehatan diberikan secara gratis. Ketersediaan lapangan pekerjaan juga akan dijamin oleh negara, sehingga tidak ada pemuda yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Wallahualam bissawab.

Penulis adalah Sindi Laras Wari SKM – (Aktivis Muslimah)