CHANRA SIMAMORA masih berjuang memulihkan tenaga usai operasi kanker payudara. Tubuhnya tampak ringkih, wajahnya pucat, dan langkahnya pelan. Namun, perempuan itu tetap berusaha tersenyum saat kuasa hukumnya, Budi Utomo, S.H., berpamitan untuk berangkat ke kantor Allianz di Medan, Kamis siang (11/12/2025).
“Tunggu kabar baik ya, Bu,” ucap Budi saat itu.
Chanra hanya mengangguk pelan. Sudah enam bulan ia menunggu kabar baik itu—sejak klaim asuransi yang diajukannya pada Juni 2025 tak pernah mendapat jawaban jelas. Sementara itu, biaya perawatan kanker yang tidak murah terus menggerus tabungan keluarga.
Kunjungan Budi ke kantor Allianz hari itu bukan sekadar formalitas hukum. Itu adalah perjalanan yang digerakkan oleh rasa lelah, amarah, dan ketidakpastian yang dialami kliennya.

Di Gedung Forum Nine lantai 6, Jalan Imam Bonjol Medan, suasana kantor asuransi Allianz tampak biasa. Namun bagi Budi dan tim hukumnya, itu adalah titik penting dalam upaya memperjuangkan hak Chanra.
Mereka membawa satu dokumen: somasi pertama. Sebuah surat yang mewakili suara seorang pasien kanker yang merasa diabaikan. Namun, langkah mereka terhenti di Area Layanan Nasabah. Seorang petugas keamanan menghadang dan melarang adanya perekaman oleh wartawan. Budi menolak.
“Kami ingin semuanya transparan. Klaim klien saya sudah berbulan-bulan tidak digubris,” katanya lantang.
Perdebatan terjadi—bukan hanya soal administrasi, tapi soal rasa dihargai sebagai manusia.

Selama hampir satu jam, Budi mengutarakan protesnya kepada petugas layanan dan customer service. Ia menjelaskan bahwa seluruh dokumen medis telah lengkap, diagnosa dari dua rumah sakit sama, dan tidak ada yang kurang. Hingga suara meninggi dan waktu bergulir, jawaban substansi tak juga muncul. Pihak Allianz terkesan hendak menutup nutupi pelayanan mereka yang bobrok terhadap nasabah.
Di tengah perdebatan sengit, Budi meminta untuk bertemu dengan pimpinan Allianz. Ia ingin mendapat jawaban pasti dari pengambil kebijakan. Sayangnya, langkah Budi dicegat. Pimpinan Allianz tak bersedia bertemu memberi kepastian. Setelah perdebatan sengit, somasi akhirnya diterima pihak Allianz. Tetapi ketika wartawan mencoba meminta klarifikasi, suasana mendadak berubah sunyi. Tidak satu pun perwakilan perusahaan yang bersedia berbicara.
Petugas keamanan yang sebelumnya mengatakan ada ruang khusus untuk media, kini hanya diam.
Pintu informasi dan klarifikasi tertutup rapat.

Dugaan Pelecehan dan Bantah Pura-pura Sakit
Dalam percakapan dengan wartawan setelah keluar dari kantor, Budi menjelaskan bahwa klaim Chanra diajukan pada bulan ke-20 sejak polis berjalan—jauh setelah masa pengecualian 12 bulan. “Kalau ada yang bermain mafia klaim, itu pasti di bulan 13. Ini tidak. Kami bulan ke-20,” ujarnya.
Namun yang membuat Budi semakin geram adalah dugaan perlakuan tidak pantas yang dialami kliennya. Seorang oknum Allianz, katanya, memotret bagian sensitif tubuh Chanra dengan alasan pembuktian. Suaranya berubah berat ketika menceritakan ini.
“Rumah sakit sudah menyatakan Chanra mengidap kanker. Mengapa perlu difoto bagian itu? Itu bukan prosedur. Itu pelecehan,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa pemeriksaan medis hanya boleh dilakukan dokter, dengan persetujuan pasien. Hingga hari ini, tidak pernah ada dokter dari Allianz yang datang.
Dalam kesempatan itu, Budi juga membantah tegas adanya tudingan bahwa kliennya berpura-pura sakit. “Kami sudah beberapa kali meminta agar Allianz mengirim dokter untuk memastikan kondisi klien. Tapi sampai sekarang tidak ada,” jelasnya.
Ia menyebut kondisi Chanra Simamora saat ini masih lemah usai menjalani operasi. “Masih kurang sehat, masih lemas,” ujarnya.

Jika Tak Segera Dibayar Akan Tempuh Jalur Hukum
Dalam kondisi fisik yang lemah, Chanra seharusnya tidak lagi berurusan dengan birokrasi. Namun nasib berkata lain.
Budi menyebut AIA—perusahaan asuransi lain—telah turun langsung ke rumah sakit, melakukan pemeriksaan lengkap, dan mencairkan klaim tanpa persoalan.
“Premi Chanra tidak pernah menunggak. Semua autodebit. Tapi untuk perawatan dari kemoterapi pertama sampai operasi, semua dibayar pribadi,” kata Budi.
Sementara di sisi lain, Allianz yang ia bayar rutin justru tidak memberikan respons. Budi hanya menerima jawaban singkat: Klaim akan dikirim ke kantor pusat.
“Hanya itu. Tidak ada penjelasan mengapa enam bulan tidak dijawab,” katanya.
Ia memberi tenggat hingga 12 Desember 2025. Jika jawaban tidak datang, Budi bersiap menempuh jalur pidana. Dugaan pelecehan seksual—baginya—merupakan pelanggaran berat.

Jika klaim tak juga dibayarkan, ia akan menempuh jalan hukum berdasarkan pasal-pasal penipuan dan penggelapan. Ia juga menyampaikan satu kekhawatiran yang lebih besar: “Jangan-jangan mafianya justru ada di dalam. Kita lihat nanti.”
Sementara di rumahnya, Chanra kembali menunggu kabar yang mungkin mengubah masa depan kesehatannya. Ia hanya ingin dua hal: keadilan dan pembayaran klaim asuransi yang semestinya menjadi haknya.
Di tengah tubuh yang masih lemah, ia menggantungkan harapan pada upaya kuasa hukumnya—dan pada sebuah jawaban yang sudah terlalu lama tertunda. (zas/sazali)







