DAERAH  

Fenomena “Gunung Es” HIV/AIDS di Tebingtinggi Dinilai Perlu Penanganan Bersama

IMG 20260513 WA0193

FORUM Tebing Tinggi | Persoalan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Kota Tebingtinggi dinilai tidak bisa lagi dipandang sebagai isu biasa.

Meningkatnya temuan kasus baru dalam beberapa tahun terakhir memunculkan kekhawatiran adanya fenomena “gunung es”, yakni kondisi di mana jumlah kasus yang terdeteksi diyakini belum sepenuhnya menggambarkan situasi sebenarnya di tengah masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tebingtinggi, jumlah penemuan kasus HIV tercatat sebanyak 87 kasus pada 2021, meningkat menjadi 97 kasus pada 2022, kembali naik menjadi 107 kasus pada 2023, sempat turun menjadi 83 kasus pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 110 kasus pada 2025.

Sementara itu, jumlah akumulasi kasus HIV/AIDS sejak 2013 hingga April 2026 tercatat sebanyak 698 kasus berdasarkan data Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) Kementerian Kesehatan RI.

Dinas Kesehatan Kota Tebingtinggi juga mencatat sebanyak 5.932 orang telah menjalani skrining HIV sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, ditemukan 110 kasus baru yang kemudian mendapatkan penanganan lanjutan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tebingtinggi, dr. Fitri Sari Saragih, M.Kes, sebelumnya menyebut penyebaran tertinggi HIV di Tebingtinggi saat ini masih berada pada populasi kunci Lelaki Suka Lelaki (LSL).

Meski demikian, sejumlah pengamat kesehatan mengingatkan bahwa HIV/AIDS tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai persoalan kelompok tertentu, melainkan persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius seluruh pihak.

Seorang pengamat kesehatan di Kota Tebingtinggi yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan bahwa penyebaran HIV saat ini memang mulai banyak ditemukan di berbagai daerah, termasuk di Kota Tebingtinggi.

“HIV memang pada saat ini sedang banyak didapati di beberapa daerah. Dalam penanganan dan pencegahan penyebarannya harus melibatkan banyak elemen,” ujarnya kepada FORUM, Rabu (13/5/2026 ) yang di hubungi melalui seluler.

Menurutnya, penanganan HIV/AIDS tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah melalui Dinas Kesehatan semata. Perlu keterlibatan berbagai unsur masyarakat agar upaya pencegahan dan edukasi dapat berjalan lebih efektif.

“Baik pemerintah melalui instansi terkait, elemen relawan dari masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, hingga lembaga swadaya masyarakat harus ikut bergerak untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit ini,” katanya.

Sumber Forum juga menilai meningkatnya kasus HIV tidak terlepas dari perilaku hidup yang tidak sehat dan kurangnya kesadaran terhadap risiko penyebaran penyakit..“Saat ini banyak dijumpai kasus yang diakibatkan karena perilaku yang tidak sehat,” ungkapnya.

Menurutnya, stigma sosial terhadap penderita HIV/AIDS juga masih menjadi tantangan besar dalam upaya penanganan. Tidak sedikit masyarakat yang takut memeriksakan diri karena khawatir mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitar.

Padahal, penderita HIV yang terdeteksi lebih dini memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kualitas hidup melalui pengobatan rutin menggunakan terapi Antiretroviral (ARV).

“Kami berharap apabila dijumpai kasus baru, penderita tidak malu datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan dan pemberian obat yang memang harus dikonsumsi seumur hidup,” tambahnya.

Di sisi lain, tingginya angka skrining HIV yang dilakukan pemerintah dinilai menjadi langkah positif dalam mendeteksi kasus-kasus yang sebelumnya tidak terjangkau layanan kesehatan. Namun kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa rantai penyebaran HIV masih berpotensi terjadi di tengah masyarakat apabila edukasi dan kesadaran publik tidak diperkuat.

Pemerintah Kota Tebingtinggi sendiri telah menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat layanan skrining, konseling, dan pengobatan HIV/AIDS melalui rumah sakit dan sejumlah puskesmas layanan Perawatan dan Pengobatan (PDP).

Fenomena “gunung es” HIV/AIDS di Kota Tebingtinggi diharapkan menjadi perhatian bersama, bukan untuk menimbulkan kepanikan, tetapi sebagai pengingat pentingnya menjaga perilaku hidup sehat, menghindari seks bebas dan perilaku berisiko, serta memperkuat edukasi dan kepedulian sosial agar penyebaran HIV/AIDS tidak semakin meluas di tengah masyarakat. (.MET )