Sejumlah warga di Linkungan 18, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, resah karena hampir dua bulan sampah menumpuk di pinggir Jalan Keramat. Hal ini sangat dikhawatirkan karena tumpukan sampah yang seharusnya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Terjun, Medan Marelan, akan menjadi sumber penyakit dan menimbulkan bau tak sedap serta merusak pemandangan.
Warga berharap agar sampah segera diangkut karena dikhawatirkan akan bertambah banyak yang menyebabkan lalat berseliweran masuk ke rumah warga. Dan sampah tersebut sebagian berasal dari sampah rumah tangga yang sengaja dibuang di pinggir jalan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi musim hujan yang rawan banjir membuat sampah akan hanyut dan tergenang di pemukiman rumah warga. Bila tidak diatasi segera maka warga akan terserang penyait karena sampan akan mengundang datangnya berbagai penyakit. MedanBisnisDaily. (Senin, 14 November 2022).
Sampah adalah salah satu masalah yang problematic dalam sistem kapitalis hasil dari gaya hidup konsumtif. Pemakaian barang-barang hasil produksi yang berlebihan atau dikenal konsumerisme menjadi paradigma manusia untuk menjadi konsumtif. Gaya hidup konsumerisme sudah membius orang yang hidup didunia ini, tidak peduli kaya atau miskin.
Sosial media yang saat ini menjadi dorongan kuat membuat gaya hidup konsumerisme telah banyak ditiru oleh orang dari kota hingga ke desa. Kebutuhan primer dan sekunder tidak lagi menjadi hal yang dipedulikan, karena dipengaruhi oleh tontonan yang dilihat dan iklan-iklan yang beredar membuat semua makanan, barang dibeli tanpa ada keperluan demi menaikkan level gaya hidup. Ditambah lagi, sampah yang berasal dari berbagai aktivitas seperti rumah tangga, sampah pertanian, sampah sisa bangunan, sampah dari perdagangan dan perkantoran, serta sampah dari industri.
Peningkatan jumlah sampah diakibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat, sehingga mereka membuang sampah tidak di tempat penampungan sampah. Sedikitnya fasilitas TPA, lemahnya peraturan yang ditegakkan, serta kurang berjalannya pengangkutan sampah juga menjadi penyebab menumpuknya sampah. Pemerintah juga melakukan upaya untuk mengatasi hal ini yakni dengan menggalakkan program “Indonesia bebas plastik” dengan cara mengurangi sampah sebesar 70% di tahun 2020.
Nyatanya upaya tersebut tak soluktif untuk mengatasi sampah. Adapun, pengangkutan sampah tampaknya juga tak berjalan optimal. Persoalan ini perlu diselesaikan secara mendasar dengan menemukan akar permasalahannya yakni ideologi kapitalis yang sedang dianut negri ini yang telah melahirkan masyarakat yang memiliki sikap individualis sehingga sulit sadar akan pentingnya menjaga kebersihan.
Sistem kapitalisme sekuler membentuk masyarakat menjadi individu-individu yang kurang bertanggung jawab. Ditambah lagi dengan minimnya peran negara dalam mengurusi urusan masyarakat. Negara hanya menyediakan segala regulasi yang ada tanpa berperan mengontrol langsung realisasi sebenarnya di tengah tengah masyarakat. Karenanya wajar, permalasahan sampah saja pun tak kunjung selesai.
Penanggulangan sampah dalam sistem kapitalis dengan Islam sangat berbeda. Islam mengajarkan kepada pemeluknya bagaimana harus menjaga, mengelola, dan mengolah dengan baik lingkungan sekitarnya maupun hasilnya. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (TQS. Al A’raf ayat 56).
Maka mengatasi masalah sampah bisa diatasi dengan adanya kesadaran dari individu. Islam tidak melarang konsumsi dan mendorong produktivitas. Akan tetapi Islam mendorong masyarakat untuk memiliki gaya hidup yang bersih, mengkonsumsi sesuai kebutuhan, melarang menumpuk barang tanpa ada manfaat. Gaya hidup yang bersih, apa adanya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dan mengkonsumsi sesuatu dengan secukupnya tanpa berlebihan. Dan gaya hidup dalam Islam yang menjadikan setiap kepemilikan akan ditanya pemanfaatannya. Dan juga diperlukan adanya kepekaan dan kerjasama di antara masyarakat untuk mengolah sampah komunal.
Di sisi lain wajibnya amar ma’ruf nahi munkar ditengah-tengah masyarakat bagaimana pelestarian dan pengelolaan lingkungan yang baik. Bahkan negara juga memiliki peran yang sangat penting dalam mengatasi masalah sampah dengan menerapkan aturan yang diambil berdasarkan hukum syara dengan upaya preventif. Apalagi adanya pemukiman masyarakat yang heterogen yang tidak bisa diatasi dengan individu atau masyarakat, maka butuh peran negara untuk mengatasinya dengan menyediakan sistem pengelolaan sampah. Bahkan negara juga akan menyediakan dana untuk melakukan pengelolaan sampah agar sampah terkelola dengan baik.
Oleh karena itu, dengan adanya kesadaran dan tanggung jawab setiap individu, masyarakat, dan negara menjadikan seluruh komponen masyarakat akan lebih peduli terhadap lingkungan. Sebab setiap perbuatan yang dilakukan akan dihisab di akhirat kelak, termasuk tindakannya dalam menjaga lingkungan. Sehingga yang diperbuat harus terikat dengan hukum syara. Maka tidak ada solusi yang mampu mengatasi problematika selain solusi Islam. Sejatinya tidak akan menghantarkan perubahan nasib jika bukan melakukan upaya perubahan dengan panduan Islam sebagai solusinya. Sudah saatnya lah, mengganti sistem rusak dan merusak kapitalisme liberal dengan menjadikan Islam memimpin seluruh kehidupan manusia dalam Naungan Daulah Islamiyah. Wallahu’alam Bissawab.







