OPINI  

Multipartai dalam Rahim Demokrasi, Kuatkan Polarisasi Lemahkan Legitimasi

photo member resize 7

Ketika umat dihadang oleh berbagai macam kesulitan, terus-menerus diselimuti dalam kegelapan, dan urusan mereka pun tidak lagi diurus dengan benar oleh pihak-pihak yang berkompeten, maka selama itu pula umat akan terus merindukan kehadiran sebuah partai politik yang sahih yang dapat menghantarkan mereka pada kebangkitan yang hakiki. Lantas, mampukah partai politik yang lahir dalam rahim demokrasi memberikan kebangkitan hakiki, atau justru malah kuatkan polarisasi lemahkan legitimasi?

Sebanyak 17 parpol (partai politik) yang sudah ditetapkan sebagai peserta dari pemilu (pemulihan umum) 2024 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Empat di antaranya adalah partai politik baru (bbc.com, 15/12/2022).

Bukan itu saja, badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI telah menemukan bahwa lebih dari 20 ribu identitas warga dicatut menjadi kader partai dalam proses pendaftaran partai politik peserta pemilu di 2024. Prahnya lagi, tiga ribu di antaranya telah lolos ketika KPU melakukan verifikasi faktual keanggotaan dari partai politik. Pencatut 20 ribu lebih identitas warga itu kemudian diketahui lewat posko aduan Bawaslu dan juga lewat petugas Bawaslu yang mengawasi secara langsung pelaksanaan dari verifikasi faktual (m.republika.co.id, 16/12/2022).

Selain itu, tren pola narasi di media sosial terkait pemilu 2024 dinilai telah menunjukkan peta yang mirip sekali dengan pemilu 2019 lalu. Hal ini diungkapkan oleh Yayasan Tifa, berdasarkan pantauan Drone Emprit dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Drone Emprit merupakan sebuah sistem untuk dapat memantau dan menganalisa percakapan yang ada di media sosial, terutama Twitter dan Facebook (katadata.co.id, 17/12/2022).

Jika diperhatikan, verifikasi partai politik akan menghasilkan banyak sekali partai politik yang lolos. Makin banyak partai politik pun dinilai akan makin demokratis, dan makin bermanfaat pula untuk rakyat. Padahal, faktanya menunjukkan hal yang berbeda, sebab beban biaya akan makin besar yang berarti pemborosan bagi negara.

Di sisi lain, hal ini malah makin menguatkan polarisasi di tengah-tengah masyarakat, yang artinya akan rawan sekali konflik, umat terpecah belah. Sementara itu, banyaknya jumlah partai politik memungkinkan adanya tahapan dari pemilihan umum yang akan berujung pada koalisi antar partai politik. Aktivitas ini (koalisi) jelas akan meleburkan sebuah partai politik sehingga dikhawatirkan kehilangan jati diri partai politik itu sendiri yang berujung lemahnya legitimasi pemimpin yang terpilih.

Maka dari sini benarlah bahwa umat Islam memang tidak memiliki tempat bernaung karena pada saat ini partai politik Islam sendiri tidak ada bedanya dengan partai politik sekuler, sebab saat ini mereka (partai politik Islam) dibangun atas dasar fikrah yang bersifat umum atau bahkan kabur dan cenderung bercampur dengan fikrah lain di luar Islam (terbuka). Selanjutnya, partai politik yang ada pun tidak benar-benar memahami metode untuk mengaplikasikan fikrahnya dan mereka diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kesadaran yang benar untuk membangkitkan umat karena mereka hanya diikat dengan ikatan kepentingan saja.

Padahal, sebuah partai politik Islam seharusnya dibangun atas dasar fikrah yang bersih dan jelas, tentunya tidak mengadopsi nilai-nilai barat tanpa mengkaji lagi apakah nilai-nilai tersebut bertentangan dengan Islam atau tidak. Kemudian, sebuah partai politik hendaknya mampu merealisasikan tujuan mereka dengan benar (tidak samar). Tidak hanya itu, para anggota partai pun harus memiliki kesadaran yang benar untuk membangkitkan umat dan mereka pun harus diikat dengan ikatan yang benar pula, yaitu ikatan akidah bukan kepentingan dunia yang dapat dibubarkan kapan saja.

Inilah partai politik sahih yang benar-benar berjuang untuk meraih sebuah kebangkitan hakiki dan mengantarkan umat pada posisinya yang paling tinggi. Karena partai politik ini menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai satu-satunya rujukan, bukan berdasarkan kepentingan-kepentingan sebuah golongan.

Rasulullah saw. bersabda:
“Pada hakikatnya tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya tunduk pada apa yang aku bawa (Al-Qur’an dan As-Sunah).” (h.r. An-Nawawi).

Untuk itu, tidaklah kita merindukan partai politik sahih yang berjuang demi kepentingan umat ini?

Wallahualam bissawab.