OPINI  

Pasar Murah, Kebijakan Pragmatis Dalam Kapitalis

pasar murah

Pasar Murah digelar oleh Pemko Medan melalui PUD Pasar Kota Medan di Pasar Tradisional Petisah Medan Jalan Razak Baru, Kota Medan. Pasar Murah ini digelar untuk menjaga stabilitas harga serta menyambut Hari Natal dan Tahun Baru atau Nataru serta berlangsung selama 2 hari yaitu mulai dari 26-27 Desember 2022. Pasar Murah juga digelar serentak di tiga titik Pasar seperti Pasar Tradisional Petisah, Pasar Marelan, dan Pasar Sukaramai. Dirut PUD Pasar Kota Medan Suwarno menuturkan dengan adanya Pasar Murah ini dapat membantu warga yang ingin berbelanja kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau dan tanpa syarat. Berbagai macam kebutuhan pokok yang dijual di Pasar Murah seperti beras, gula, minyak goreng, dan telur (Tribun-Medan.Com. Senin, 26 Desember 2022).

 Adanya pasar murah ini seperti air ditengah gurun. Keberadaannya  sangat dibutuhkan masyarakat sehingga tak heran membuat masyarakat antusias terhadap kemunculan pasar murah ini. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa harga bahan pokok naik berulang di setiap momen tertentu seperti hari-hari keagamaan, natal, tahun baru, puasa, lebaran?

Secara umum barang naik dikarenakan terjadi inflasi di tengah masyarakat. Kurangnya persediaan barang dan tingginya permintaan pasar menyebabkan terjadi kelangkaan. Akibatnya,  harga barang melonjak sementara nilai mata uang terus mengalami penurunan. Maka ketika fenomena kenaikan harga terjadi, masyarakat menjadikan seolah-olah itu adalah  hal yang wajar. Seharusnya pemerintah mampu membuat barang-barang dengan harga yang murah tanpa membuat program pasar murah. Karena pasar murah sifatnya temporal dan hanya ada disaat momen-momen tertentu. Sedangan kebutuhan pokok itu sifatnya akan terus dibutuhkan demi keberlangsungan hidup manusia. Dan ini seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. sebab berhubungan dengan hajat orang banyak.

Namun, kebijakan-kebijakan di dalam pemerintahan kapitalisme demokrasi sudah terbiasa pragmatis dan memang tak kunjung serius menyelesaikan permasalahan ini. Negara hanyalah sebagai regulator semata. tapi tak seutuhnya mampu mengendalikan pasar. Terlebih lagi, prinsip ekonomi pasar bebas yang menjadi asas perekonomian pasar. Maka, mereka yang memiliki modal punya kuasa untuk mengatur harga pasar. Mereka diizinkan untuk menggerakkan perekonomian pasar. Alih-alih membantu daya beli masyarakat, nyatanya pemerintah malah menguntungkan para korporasi. Inilah konsep pasar dalam sistem kapitalisme. Masyarakat senang sesaat namun kesejahteraan berkelanjutan tidak pernah didapatkan.  Meskipun pasar murah mampu membantu sebagian masyarakat. Namun nyatanya, subsidi bukanlah solusi. Bahkan pasar murah hanya digelar dibeberapa wilayah saja, sementara rakyat yang wilayahnya jauh harus membayar lebih mahal karena jarak yang jauh untuk mendapatkan kebutuhan pokok yang murah.  Inilah sistem kehidupan kapitalisme sekulerisme yang tak mampu menyejahterakan masyarakat.

Berbeda dalam pandangan Islam. Islam yang merupakan agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan termasuk dalam hal bernegara. Dalam Islam, pemimpin adalah pelayan atau pengurus bagi rakyatya.

اَلْإِمَامُ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…

“Pemimpin masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadist ini menjadi landasan bagi pemimpin dalam Islam ketika menjalankan pemerintahannya. Cara pandang negara terhadap rakyat akan sungguh berbeda dengan cara pandang kapitalisme terhadap rakyatnya. Negara yang menjadikan Islam sebagai landasannya, akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengurusi rakyatnya. Negara tidak akan mengambil keuntungan dari rakyat atau terbebani atas kewajibannya memenuhi hak rakyat. Karena setiap pemimpin yang menjadikan Islam sebagai landasan bernegara akan menyadari, kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT di akhirat kelak.

Menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang murah menjadi prioritas bagi negara. Segala upaya akan dilaksanakan untuk bisa menghasilkan berbagai komoditas untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Negara juga mendorong para peneliti bidang pangan agar bisa menghasilkan bibit-bibit unggul dan tahan terhadap hama dan cuaca. Demikian halnya dengan komoditas peternakan. Hasil peternakan akan ditingkatkan agar bisa memenuhi permintaan pasar (rakyat). Melalui swasembada pangan, negara akan memastikan supply-nya tetap terjaga sehingga tetap bisa dijual pada rakyat dengan murah sepanjang waktu. Dalam Islam juga menyediakan pasar murah, akan tetapi itu tidak menjadi prioritas. Adanya pasar murah hanya disediakan bagi para penjual, sehingga para penjual lah yang akan menjual barangnya kepada rakyat. Sehingga tidak merugikan para penjual maupun pembeli dan mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Demikianlah Islam menjadi solusi bagi permasalahan ekonomi. Harga kebutuhan pokok relatif stabil. Rakyat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan murah sepanjang waktu. Maka sudah  saatnya kita terlepas dari jeratan sistem kapitalis liberal hari ini dan kembali kepada sistem islam  yang mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya yakni kembali kepada sistem pemerintahan islam secara menyeluruh dalam Naungan Daulah Islamiyah.

 

Penulis: Atika NAsution (Alumni Mahasiswi UISU Medan)