FORUM ACEH | Bagi setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS), masa pensiun pasti akan datang menghampiri. Ketika tiba masa pensiun itu, apa yang akan diperbuat selanjutnya, tentu banyak hal yang bisa dilakukan. Ada yang menggeluti sektor pertanian dan perkebunan, berdagang, dan ada pula berwirausaha.
Namun, bagi Syamsul Bahri, 63 tahun, warga Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, seorang pensiunan PNS di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang, pada tahun 2018 lalu, ternyata cukup lihai membaca peluang bisnis menjanjikan di masa pensiun, dengan melakukan penggemukan hewan sapi. Bisnis tersebut mampu mendulang rupiah setiap menjelang hari raya Idul Adha.
“Kala itu, dua tahun lagi saya menyandang masa pensiun sebagai PNS, yakni pada tahun 2016, dan pensiun saya pada tahun 2018, saya sudah melakukan ancang – ancang untuk memikirkan, apa yang akan saya perbuat masa pensiun nanti. Dan hal itu saya tanyakan kepada teman, kemudian teman itu menyarankan agar saya berbisnis penggemukan hewan sapi, untuk kemudian dijual kepara pembeli,” kata Syamsul saat bincang – bincang dengan Forum Keadilan di kediamannya, kemarin.
Mendengar saran temannya itu, tambah Samsul, jiwanya seketika terdorong untuk menekuni bisnis penggemukan sapi tersebut, dengan awal membeli 30 ekor sapi dari masyarakat untuk digemukan.
Bisnis yang dilakoni pria berpostur tinggi besar itu, awalnya tidak-lah langsung mencapai usaha yang laris manis. Sapi yang Syamsul pelihara dengan cara penggemukan itu, hanya dilirik oleh pembeli dengan jumlah yang tidak banyak, namun dengan keyakinan dan kegigihannya, ia terus merawat 30 ekor sapi yang dibelinya itu dengan baik, agar hasilnya bisa memikat kosumen yang datang dan tertarik untuk membeli.
“Dari 30 ekor sapi yang saya beli dari masyarakat di perkampungan, saya rawat dengan cara penggemukan. Alhamdulillah, pada tahap awal menggeluti bisnis ini, dari 30 sapi yang saya gemukan, bisa terjual sebanyak 20 ekor sapi,” kenang Abah Syamsul, begitu panggilan akrabnya.
Ia menjelaskan, setiap sapi yang ia beli dari masyarakat, harus benar – benar memiliki kualitas yang baik, dan umurnya cukup untuk dijual para pembeli, sehingga ketika digemukan, para pembeli merasa puas dan akan kembali lagi membeli sapi – sapi yang dirawatnya itu.
“Saya membeli sapi dari masyarakat, bekisar antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta, dengan kondisi kualitas baik, dengan usia sapi 2 tahun. Kemudian saya rawat untuk digemukan selama 5 bulan, dan sapi yang saya gemukan tersebut bisa saya jual antara Rp 12 juta hingga Rp 17 juta,” ungkap Syamsul.
Seiring waktu berjalan, lanjut samsul, selama 5 tahun menggeluti bisnis penggemukan sapi tersebut, saat ini sudah banyak konsumen yang datang untuk membeli sapi – sapi yang dirawatnya itu.
“Untuk sekarang, pembeli tetap sudah ada, penjual tetap sapi ke saya pun juga sudah ada. Jadi saya sudah tidak paya – paya lagi untuk menjual dan membeli sapi diluaran sana. Bila mau lebaran Idul Adha begini, 30 ekor sapi yang saya gemukan itu ludes terjual, bahkan kurang barang. Alhamdulillah, dari keuntungan jual sapi untuk Qurban setiap tahunnya, bisa mencapai antara Rp 50 juta hingga Rp 60 juta,” terang Syamsul mengakhiri. (Sutrisno)








