Oleh: Della Frice Br Manurung – Mahasiswi UMN Al-Washliyah
Setiap hari, dunia disuguhi berita duka dari Palestina. Serangan udara, blokade, dan penghancuran infrastruktur terus berlangsung tanpa henti. Israel semakin intensif dalam operasinya, mengklaim bahwa tindakan mereka adalah ‘baru permulaan’ (CNBC Indonesia, 2025). Bahkan, hak beribadah pun direnggut, seperti yang terjadi di Masjid Al-Aqsa ketika toa masjid disita oleh otoritas Israel (Tribun Aceh, 2025).
Di Palestina, penderitaan rakyat semakin menjadi-jadi. Anak-anak yang seharusnya berlari riang di jalanan kini hanya bisa meratap dalam kesakitan, kehilangan anggota tubuh akibat serangan brutal yang tak mengenal belas kasihan. Para ibu tak hanya berjuang menjaga anak-anak mereka dari kelaparan dan dinginnya malam, tetapi juga dari ancaman peluru yang bisa datang kapan saja. Penduduk Palestina hidup dalam ketakutan, di bawah bayang-bayang perang yang tak kunjung usai.
Di tengah kehancuran ini, jurnalis hadir untuk menyampaikan kebenaran kepada dunia. Mereka merekam jeritan, melaporkan duka, dan membawa kenyataan pahit yang coba disembunyikan oleh penjajah. Namun, Israel memahami bahwa kebenaran adalah musuh terbesar bagi kejahatan mereka. Oleh karena itu, jurnalis dijadikan target pembungkaman. Mereka diburu, ditembaki, bahkan dibunuh dengan keji agar suara mereka tak lagi terdengar.
Palestina terus menangis, tetapi kepada siapa lagi? Kepada dunia yang bisu, pemimpin yang berpaling, atau keadilan yang telah lama terkubur? Seharusnya dunia Islam menjadi benteng terakhir, tetapi banyak negara Muslim justru memilih diam atau hanya melontarkan kecaman tanpa aksi nyata. Mereka lebih sibuk menjaga hubungan diplomatik dengan negara- negara barat daripada membela saudara seiman yang tertindas. Negari-negari Muslim yang kaya dan berkuasa pun tetap bungkam, enggan menggunakan pengaruh mereka untuk menghentikan genosida yang terjadi di depan mata.
Namun, Di sisi lain, Dunia Barat yang mengklaim membela hak asasi manusia justru berpihak pada Israel. Mereka menyuplai senjata, mendukung secara politik, dan membiarkan agresi terus berlangsung. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang seharusnya menjadi hakim dunia, seakan enggan mengambil langkah tegas. Resolusi demi resolusi disusun, tetapi belum mampu menghadirkan solusi yang benar-benar menghentikan konflik.
Umat Islam harus menyadari bahwa kelemahan kita hari ini bukan semata-mata karena kekuatan musuh, tetapi karena kita sendiri yang terpecah-belah. Perjuangan Palestina sering kali dianggap sebagai urusan “negeri lain,” bukan masalah kita sendiri. Banyak yang berpikir bahwa selama mereka tidak terkena dampaknya secara langsung, mereka tidak perlu peduli. Sikap ini lahir dari hilangnya rasa persaudaraan dalam tubuh umat Islam, akibat nasionalisme sempit yang memecah kita menjadi berbagai bangsa dan negara dengan kepentingan masing-masing.
Padahal, Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa “ umat Islam itu seperti satu tubuh. Jika satu bagian terluka, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya”. Namun kenyataannya, saat saudara kita di Palestina dibantai, banyak dari kita yang hanya diam atau sekadar mengutuk tanpa tindakan nyata.
Kini, umat Islam harus menyadari bahwa satu-satunya solusi bagi Palestina adalah tegaknya kepemimpinan Islam yang sejati. Hanya dengan bersatunya kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan yaitu khilafah, kita bisa membebaskan Palestina dan melawan kezaliman dengan kekuatan yang setimpal. Bukan kepemimpinan yang tunduk pada Barat atau kepentingan nasional semata, tetapi kepemimpinan yang benar-benar memperjuangkan Islam dan umatnya.
Lebih dari itu, tegaknya Khilafah bukan hanya untuk membebaskan Palestina, tetapi juga untuk melindungi seluruh kaum Muslim di dunia. Hal ini telah dicontohkan oleh peradaban Islam pada masa keemasannya (Golden Age of Islam), dari Rasulullah ﷺ hingga Khilafah Utsmaniyah sebelum runtuh. Pada masa itu, dunia menyaksikan kejayaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban yang maju di bawah naungan Islam. Dengan sistem Islam, umat hidup dalam persatuan, keadilan ditegakkan, dan kesejahteraan merata. Tidak ada penindasan, kesenjangan, atau ketidakadilan yang dibiarkan terjadi seperti saat ini. Syariat Allah SWT menjadi aturan yang membawa keberkahan bagi seluruh alam.
Oleh karena itu, umat Islam wajib berjuang menegakkan kepemimpinan Islam sebagai mahkota kewajiban. Untuk mewujudkannya, diperlukan jamaah dakwah yang memiliki visi ideologis untuk membimbing umat sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Sebab, banyak yang belum memahami bahwa Islam bukan sekadar agama spiritual, tetapi ideologi yang mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi, kesehatan, keamanan, pemerintahan, dan hubungan internasional. Dengan menerapkan Islam secara menyeluruh, umat ini akan kembali menemukan kejayaannya.
Sudah saatnya kita kembali kepada Islam secara total, sebagaimana seruan Allah SWT dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu” (Q.S. Al-Baqarah: 208).
Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi umat Islam selain menegakkan kembali Khilafah. Hanya dengan sistem ini, kaum Muslim dapat bersatu dan memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Dengan tegaknya Khilafah, pasukan Muslim akan dikirim untuk berjihad melawan Zionis. Senjata hanya bisa dilawan dengan senjata! Israel tidak akan mundur hanya dengan pernyataan simpati, karena mereka hanya memahami bahasa kekuatan. Selama dunia Islam lemah dan terpecah, mereka akan terus menginjak-injak kehormatan kita. Oleh sebab itu, umat Islam harus bangkit, menyatukan kekuatan, dan menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang akan melindungi dan membela kaum Muslimin di seluruh dunia!
Wallahu a’lam bisshawab
Penulis adalah Della Frice Br Manurung, Mahasiswi Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah









