OPINI  

Literasi Sekarat di Negeri Sekuler: Saat Baca Buku Kalah dari Scroll Layar

images 3

Oleh: Nuhalisa (Aktivis Muslimah)

Mengapa sebanyak 400 siswa SMP di Buleleng belum bisa membaca? Benarkah karena kurangnya peran guru? Ataukah ini buah dari kebijakan yang lebih mendorong siswa agar lebih terampil menggunakan media sosial daripada membaca buku?

Alih-alih belajar membaca, ratusan siswa SMP di Kabupaten Buleleng, Bali, lebih memilih bermain media sosial. Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti kondisi ini sebagai bentuk refleksi atas ketimpangan dalam pemenuhan hak dasar pendidikan di Indonesia.

Ini bukan sekadar isu pendidikan biasa, tetapi sudah menjadi persoalan darurat yang harus segera diatasi demi keberhasilan rakyat. “Bagaimana bisa kita bicara tentang kemajuan teknologi, ekonomi masa kini, dan SDM bermutu tinggi, jika masih ada anak-anak SMP yang belum mampu membaca?”

Dalam lingkup ASEAN, Indonesia tertinggal jauh dari Singapura, Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Thailand. Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, skor literasi membaca Indonesia hanya mencapai 359, tertinggal jauh dari nilai rata-rata OECD sebesar 476.

Sejak lama, sudah tak terhitung video viral tentang siswa SMP dan SMA yang tidak bisa mengerjakan soal berhitung dasar. Fakta ini selaras dengan rendahnya skor literasi Indonesia dalam penilaian PISA. Hasil riset di Buleleng memperpanjang daftar panjang lemahnya keterampilan siswa Indonesia (merdeka.com, 17/4/2025).

Di era digital, tidak mengherankan jika siswa lebih memilih bermain media sosial dibandingkan membaca buku. Media sosial dianggap sebagai tempat yang menyenangkan dengan banyak hiburan menarik. Mereka bisa betah berjam-jam, berbeda dengan membaca buku yang membuat mereka cepat bosan, bahkan tertidur karena dianggap tidak menarik.

Situasi ini menjadi tamparan keras yang menunjukkan kegagalan sistem pendidikan kapitalis. Sistem pendidikan yang berlandaskan sekularisme, cara pandang yang memisahkan agama dari kehidupan yang membuat pendidikan kehilangan ruh keimanan. Pendidikan hanya menjadi sarana memperoleh pengajaran, bukan untuk menimba ilmu sebagai bekal hidup.

Tujuan pendidikan dalam sistem ini hanyalah pencapaian materi semata– prestasi, ijazah, dan pekerjaan. Akibatnya, motivasi belajar siswa rendah. Apalagi media sosial saat ini menjadi ruang kebebasan dalam sistem kapitalisme, menyuguhkan tayangan yang menyenangkan dan membuat mereka lebih senang bermain medsos daripada belajar.

Sistem pendidikan kapitalis-sekuler mengantarkan generasi pada keterpurukan. Masalah ini tidak akan selesai hanya dengan mengandalkan peran guru dan orang tua atau dengan membatasi penggunaan ponsel di sekolah dan rumah. Solusinya harus menyentuh akar sistem pendidikan itu sendiri: mengganti sistem pendidikan yang gagal ini dengan sistem alternatif yang terbukti mampu membentuk generasi unggul.

Satu-satunya sistem pendidikan yang terbukti mampu mengatasi masalah ini adalah sistem pendidikan Islam. Sistem ini mengarahkan anak untuk mencari ilmu, menjadi pribadi beriman dan berilmu. Dalam Islam, orang yang beriman dan berilmu dijanjikan derajat yang tinggi oleh Allah Swt.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(TQS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Saat Rasulullah menjadi kepala negara di Madinah, beliau pernah menetapkan kebijakan bahwa tawanan perang dari kaum kafir Quraisy dapat menebus diri mereka dengan mengajarkan baca tulis kepada kaum Muslimin.

Syaikh Atha bin Khalil dalam kitabnya menjelaskan bahwa kurikulum pendidikan dalam Islam harus memperhatikan dua hal penting:
Pertama, pendidikan harus diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, yakni pola sikap (nafsiyah) dan pola pikir (aqliyah).
Kedua, pendidikan harus mempersiapkan generasi yang mampu menjadi ulama dan ahli dalam berbagai bidang seperti fikih, ijtihad, fisika, kedokteran, dan lainnya.

Dengan kurikulum seperti ini, anak-anak tidak akan lemah dalam literasi atau bahkan tidak lancar membaca. Sebaliknya, mereka akan tumbuh menjadi generasi tangguh dan haus ilmu. Teknologi akan mereka manfaatkan secara tepat, bahkan media sosial bisa dijadikan sarana pendukung pembelajaran.

Pendidikan juga tidak boleh hanya diserahkan pada guru. Orang tua harus ikut terlibat di rumah. Negara pun memiliki peran vital dalam menerapkan sistem pendidikan Islam. Negara wajib menyediakan pendidikan gratis dan merata, tanpa diskriminasi, agar tak ada anak-anak yang tertinggal dalam hal membaca.

Jadi, jelaslah bahwa solusi tuntas bagi masalah rendahnya kemampuan membaca bukanlah dengan membatasi penggunaan ponsel, tetapi dengan mencabut akar masalahnya: mengganti sistem pendidikan kapitalis dengan sistem pendidikan Islam.

Wallahualam bissawab.

Penulis adalah Nuhalisa (Aktivis Muslimah)