Oleh Winda Raya, S.Pd, Gr (Aktivis Muslimah)
Jalanan kota yang menjadi urat nadi yang menghidupi denyut keseharian, dari satu sudut ke sudut lainnya. Namun, sering kali yang kita temukan adalah pemandangan yang membuat dada sesak, di antara gedung-gedung tinggi dan hiruk pikuk kehidupan. Jalanan yang rusak parah, bukan sekadar lubang kecil yang bisa dihindari, melainkan kawah-kawah menganga yang siap menelan roda kendaraan, aspal yang mengelupas bak kulit kering, dan tambalan-tambalan asal jadi yang justru menambah derita.
Setiap kayuhan roda sepeda motor yang terperosok, setiap bantingan setir mobil yang menghantam lubang, seolah bercerita tentang perjalanan yang penuh tantangan, bahaya, dan biaya tidak terduga. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan cermin dari infrastruktur yang menua dan janji akan perbaikan yang tidak kunjung tiba.
Dilansir dari detik Sumut tanggal 12 Juni 2025. Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Medan meninjau jalan rusak di beberapa titik hari ini, salah satunya di Jalan Danau Singkarak, Gang Madrasah, Kecamatan Medan Helvetia. Pekan depan bakal diperbaiki jalan rusak tersebut, ungkapnya. Rico juga mengatakan bahwa dengan adanya laporan masyarakat jalannya rusak, sudah ada beberapa yang kita benerin, yang ini kan belum. Akan ada beberapa daerah yang ditinjau.
Banyak masyarakat memanfaatkan jalan rusak di sekitar lokasi tersebut sebagai salah satu jalur menuju kampus, “beberapa rembesan air yang membuat jalan rusak, banyak lalu lalang masyarakat, di sini juga tembusan dari universitas,” ucapnya. Rencananya perbaikan jalan bakal dimulai pekan depan. Pengerjaan jalan ini ditargetkan rampung dalam 2 minggu. Minggu depan kita kerjakan, kalau rampung paling lama 2 minggu, tuturnya.
Kerusakan jalan di kota Medan, seperti yang sering kita lihat dan alami merupakan krisis infrastruktur. Keselamatan pengguna jalan terabaikan, jalan di Medan Helvetia yang membahayakan, terutama pengendara roda dua. Pemerintah daerah gagal menjamin hak rakyat atas fasilitas umum yang aman, termasuk kondisi jalan. Jalan berlubang adalah bentuk kelalaian yang bisa berujung maut.
Sistem Kapitalisme sering kali menempatkan pembangunan berdasarkan nilai ekonomis, bukan kemaslahatan publik. Akibatnya, wilayah pinggiran seperti Medan Helvetia kurang mendapat perhatian. Ironisnya, beberapa kerusakan jalan di Medan juga diakibatkan oleh proyek galian drainase. Kualitas bahan baku dan standar pengerjaan konstruksi jalan memegang peranan sangat penting dalam ketahanan jalan.
Penggunaan mutu aspal yang asal jadi yang tidak sesuai standar, sehingga jalan menjadi rapuh dan mudah rusak. Kurangnya pengawasan ketat dalam proses pembangunan yang menyebabkan pengerjaan kurang optimal yang berdampak pada kualitas dan kekuatan jalan.
Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab penuh terhadap fasilitas publik, termasuk menjamin infrastruktur jalan yang baik dan aman. Kelalaian yang menyebabkan kematian akan dihitung sebagai pelanggaran berat dan diadili secara adil. Perlu sistem alternatif yang menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas, bukan keuntungan ekonomi semata.
Pada masa Rasulullah saw. pembangunan infrastruktur saat itu sangat penting. Pada jalur perdagangan meskipun tidak ada pembangunan jalan raya berskala besar, Rasulullah saw. mengamankan dan mengatur jalur-jalur perdagangan yang sudah ada, khususnya antara Mekah dan Madinah, serta ke wilayah sekitarnya. Keamanan jalur ini penting untuk ekonomi dan mobilitas.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab beliau dikenal sebagai arsitek peradaban Islam. Pada masanya, kekuasaan Islam meluas dengan pesat, dan kebutuhan akan infrastruktur yang terorganisir menjadi sangat mendesak. Beliau adalah khalifah pertama yang secara sistematis memperhatikan pembangunan jalan. Umar memerintahkan pembangunan dan perbaikan jalan-jalan utama untuk menghubungkan kota-kota besar dan wilayah taklukan yang baru. Tujuannya adalah untuk memudahkan pergerakan pasukan, perdagangan, dan administrasi.
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, kekayaan negara meningkat pesat berkat perluasan wilayah. Pembangunan infrastruktur terus berlanjut, dengan fokus pada peningkatan fasilitas yang sudah ada dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Utsman melanjutkan kebijakan pembangunan jalan. Ia memerintahkan pembangunan jalan dan saluran air untuk mendukung perluasan wilayah dan perdagangan.
Utsman dikenal sebagai khalifah yang membangun armada laut pertama dalam sejarah Islam. Meskipun bukan jalan darat, ini merupakan infrastruktur transportasi laut yang sangat penting untuk perdagangan dan pertahanan. Pembangunan pelabuhan dan fasilitas pendukungnya tentu membutuhkan akses darat. Perluasan Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah terus dilakukan, yang juga memengaruhi tata kota dan aksesibilitas di sekitarnya.
Utsman juga membentuk kepolisian tetap untuk mengamankan jalur perdagangan, baik darat maupun laut, yang secara tidak langsung mendukung fungsi jalan. Dengan demikian, menerapkan prinsip-prinsip Islam ini, bukan hanya jalanan yang akan menjadi lebih baik, tetapi juga tata kelola pemerintahan yang lebih bersih, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Wallahualam bissawab.
Penulis adalah Winda Raya, S.Pd, Gr (Aktivis Muslimah)









