FORUM Tebing Tinggi | Revitalisasi Pasar Inpres rampung, tapi nasib pedagang justru menggantung. Kios yang dijanjikan tak kunjung dibagi, sementara retribusi sudah lebih dulu ditarik. Di lapangan, pedagang masih bertahan di pinggir jalan tanpa kepastian, tanpa perlindungan.
Situasi ini memantik kemarahan. Pungutan berjalan, fasilitas tak datang. Ketimpangan itu kini jadi sorotan serius terhadap kinerja Dinas Perdagangan Kota Tebing Tinggi.

Dodi Rajagukguk (38), pedagang Pasar Inpres, yang di temui awak media pada Rabu ( 22/4/2026 ) mengatakan pihaknya masih menagih janji yang dulu diucapkan Kepala Dinas Perdagangan, Marimbun Marpaung. Dodi menyebut seluruh pedagang sempat dijanjikan akan mendapat kios pascarevitalisasi.
“Janji awal semua pedagang dapat kios, dinaikkan semua. Tapi sekarang? Retribusi diminta, sementara kami masih di pinggir jalan,” tegasnya.

Sorotan juga datang dari pemerhati pasar, Amri (40) yang menilai proyek revitalisasi kehilangan arah dan gagal menjawab kebutuhan riil pedagang. “Tidak ada dampak signifikan. Justru makin semrawut. Meja yang disediakan pun tidak layak untuk jualan lebih mirip meja medis ketimbang fasilitas pasar,” kritiknya tajam.
Kondisi ini menegaskan adanya ketidaksinkronan antara kebijakan dan realisasi di lapangan. Revitalisasi yang seharusnya menata, justru meninggalkan persoalan baru: ketidakadilan distribusi kios dan beban retribusi yang dipaksakan.

Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Perdagangan belum memberikan penjelasan resmi. Sikap diam ini mempertegas kesan abai terhadap nasib pedagang kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi pasar.
Banyak pedagang yang berpendapat, Pemerintah Kota Tebing Tinggi tak bisa lagi menunda. Transparansi daftar penerima kios, dasar penarikan retribusi, dan skema penataan ulang harus segera dibuka ke publik. Jika tidak, dugaan maladministrasi dan ketidakadilan kebijakan akan semakin menguat dan kepercayaan publik kian runtuh. (MET)







