OPINI  

Pajak Sebagai Dalih Pemalakan Pada Rakyat

download 15

Oleh Sindi Laras Wari, SKM (Aktivis Muslimah)

“Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu”

Begitulah penggalan lirik lagu yang dapat menggambarkan begitu makmur tanah Indonesia, tetapi tidak ada kemakmuran bagi rakyatnya. Bahkan rakyat merasa makin berat untuk menjalani kehidupan ditambah pemalakan melalui pajak kian meningkat. Namun, beginilah hidup dalam cengkeraman kapitalis, apakah kita harus bertahan dengan keadaan ini?

Sri Mulyani Indrawati sebagai menteri keuangan telah menyatakan bahwa kenaikan tarif PPN yang akan dilaksanakan awal tahun 2025 akan tetap berjalan. Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen akan menjadi 12 persen, kenaikan mulai 1 Januari 2025 sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) (antaranews.com, 16/11/2024).

Awal November ini terdapat isu yang hangat untuk diperbincangkan, pasalnya menteri keuangan saat ini menyatakan bahwa akan terjadi kenaikan pajak pada awal tahun 2025. Yang mulanya PPN 11 persen menjadi 12 persen, yang akhirnya menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Sebab kenaikan pajak ini akan dapat mendatangkan kerugian dan keuntungan, tetapi dampaknya lebih banyak kerugian yang ditimbulkan dibandingkan dengan keuntungan.

Kenaikan PPN juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan negara, namun penurunan konsumsi rumah tangga merupakan salah satu dampak apabila kenaikan PPN tanpa langkah yang terencana. Pasalnya kenaikan PPN akan mempengaruhi daya beli masyarakat yang berimbas pada perekonomian ditengah-tengah masyarakat yang sangat mengimpit.

Masyarakat makin merasa terbebani dengan kebijakan yang akan segera terlaksana ini, karena pendapatan masyarakat Indonesia saat ini tidak memiliki peningkatan yang cukup signifikan dan badai PHK masih terjadi. Hal ini berbanding terbalik dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang naik dengan signifikan ditambah dengan beban dari negara yang tidak bisa kita hindari.

Sungguh miris hidup di negeri Indonesia dengan menggunakan sistem kapitalis, di mana negaranya sangat terkenal dengan kekayaan sumber daya alam, tetapi masyarakatnya hidup dalam kesengsaraan. Dapat hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok merupakan suatu hal yang harus sangat disyukuri, sebab masih banyak masyarakat yang tidak mampu hanya sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya saja.

Hal ini sangat berbanding terbalik dengan negara Islam yang sering disebut Khilafah, di mana kesejahteraan merupakan jaminan dari negara yang diberikan kepada seluruh umat yang hidup di bawah naungannya. Di dalam negara Islam pajak bukan merupakan sumber pendapatan bagi negara, sebab pajak yang dibebankan pada rakyat tanpa jaminan kesejahteraan pada rakyatnya seperti di Indonesia dengan sistem kapitalisnya pasti akan menzalimi masyarakatnya.

Pendapat utama negara Islam merupakan hasil dari kekayaan sumber daya alam yang dikelola oleh negara Islam itu sendiri dan keuntungannya akan dikembalikan ke negara. Oleh karena itu, pada masanya biaya pendidikan dan kesehatan gratis, bahkan para dokter berkeliling mendatangi rumah warga satu persatu dan bertanya apakah ada orang yang sakit? Peristiwa ini terjadi karena hampir tidak ada yang datang untuk berobat, mereka hidup dalam kesejahteraan dengan kesehatan yang cukup prima pula jadi tidak ada yang jatuh sakit.

Sumber daya alam yang ada akan dikelola oleh negara Islam itu sendiri, biaya yang dikeluarkan hanya untuk proses produksi sumber daya alam sehingga menjadi suatu barang yang dapat digunakan masyarakat umum. Sehingga hasil tambang seperti BBM di negara Islam itu harganya sangat murah, dan keuntungan yang didapat kan tidak menumpuk pada para kapitalis seperti sistem hari ini, tetapi keuntungan akan dikembalikan kepada negara dan dikelola untuk kesejahteraan rakyatnya dalam segala bidang kehidupan.

Dikarenakan biaya pendidikan yang sangat terjangkau bahkan gratis menjadikan masyarakat dalam negara Islam masyarakat yang terpelajar, beradab dan berakhlak mulia sehingga membawa peradaban yang mulia dan gemilang. Banyak ilmuan yang mampu dilahirkan oleh peradaban Islam yang mulia seperti yang sebelumnya, sehingga menjadi pencetus bagi para ilmuan modern saat ini. Tanpa adanya para ilmuan Islam terdahulu yang sangat gemilang pada masa keemasan abad pertengahan maka dunia tidak bisa semaju ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَحُكْمَ الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS. Al-Ma’idah [5]: 50).

Wallahualam bissawab.