OPINI  

Kebrutalan Zionis Tak Terbendung, Umat Harus Terus Menggaungkan Solusi Hakiki

Oleh : Della Frice Br Manurung Mahasiswi UMN Al-Washliyah Medan

images

Serangan terbaru Israel ke Rumah Sakit Indonesia di Gaza menewaskan sedikitnya 15 orang, termasuk seorang jurnalis Reuters ( Beritasatu, 25/08/2025 ). Lebih dari itu, serangan ini menegaskan pola sistematis: Zionis menarget jurnalis dan paramedis dengan drone, bahkan ketika mereka sedang menyiarkan secara langsung dari lokasi ( BBC Indonesia ).

Fakta ini menunjukkan kebrutalan Zionis makin tak terbendung, bahkan di ruang yang seharusnya netral dan dilindungi hukum internasional seperti rumah sakit. Tragedi ini bukan lagi sekadar konflik, tetapi kejahatan kemanusiaan yang berlangsung sistematis.

Selama ini, banyak pihak menaruh harapan pada beragam cara untuk menyelesaikan konflik Palestina: Jalur diplomasi, tekanan ekonomi, maupun kampanye kemanusiaan global. Tidak bisa dipungkiri, pendekatan-pendekatan ini memiliki dampak tertentu.

Namun, efektivitasnya sangat terbatas. Israel berkali-kali melanggar resolusi PBB tanpa konsekuensi nyata, sementara embargo seringkali tidak konsisten diterapkan. Kampanye kemanusiaan pun, meski penting, hanya mengobati luka, bukan mengakhiri penjajahan. Inilah mengapa banyak kalangan menilai bahwa strategi-strategi tersebut, meski bermanfaat secara parsial, tidak mampu menjawab akar masalah.

Dalam kondisi seperti ini, umat Islam di seluruh dunia dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sampai kapan hanya menjadi penonton? Jumlah kaum Muslim yang mencapai dua milyar seharusnya cukup untuk menjadi kekuatan global. Tapi nyatanya tak bisa berbuat apa-apa.
Faktanya, umat Muslim masih terpecah. Sejak zaman kolonial, wilayah-wilayah Muslim dibagi-bagi menjadi negara-negara terpisah, sehingga tiap penguasa lebih fokus pada urusan dalam negerinya sendiri. Akibatnya, masalah Palestina sering tidak dianggap sebagai tanggung jawab mereka. Kelemahan politik ini memberi kesempatan bagi Zionis dan sekutunya untuk terus bertindak semena-mena.

Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sadarilah, Tanah Palestina sejatinya adalah tanah kaum Muslim yang dirampok dan dijajah oleh Zionis Yahudi dengan restu negara-negara besar. Oleh karena itu, pembebasannya tidak mungkin hanya bergantung pada diplomasi, donasi, apalagi sekadar kecaman moral. Yang dibutuhkan adalah jalan keluar mendasar: kebangkitan umat dengan kepemimpinan politik yang mampu menghadirkan kekuatan riil.

Sejarah membuktikan hal ini. Pembebasan Al-Quds dari cengkeraman Tentara Salib tidak pernah terjadi melalui meja perundingan, melainkan melalui kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi yang mampu menyatukan umat dan mengarahkan energi mereka pada perjuangan yang terorganisir. Sebaliknya, perjanjian modern seperti Oslo Accord 1993 justru hanya melahirkan ilusi perdamaian, memberi Israel ruang untuk memperluas pendudukannya. Dari sini jelas bahwa kompromi tanpa kekuatan politik dan militer hanyalah janji kosong.

Dalam ajaran Islam, perlawanan terhadap agresi dilakukan di bawah kepemimpinan politik—Daulah Khilafah—yang memiliki legitimasi syar’i sekaligus kapasitas militer. Namun, jihad dalam Islam bukanlah teror buta sebagaimana yang dilakukan Zionis terhadap warga sipil. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam wasiat perang: “Janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak, orang tua, dan jangan merusak tempat ibadah.” (HR. Abu Dawud).

Prinsip ini menunjukkan bahwa perlawanan bersenjata dalam Islam berlandaskan kemanusiaan universal. Perbedaan ini sangat kontras dengan Zionis yang menargetkan rumah sakit, sekolah, dan jurnalis tanpa pandang bulu. Karena itu, solusi hakiki bagi Palestina adalah kebangkitan umat Muslim yang bersatu dan menyadari kewajiban syar’i untuk berjihad di bawah naungan kepemimpinan Islam yang adil.

Selain itu, edukasi massif harus dilakukan agar umat tidak terjebak dalam wacana kompromi yang semu. Umat harus menuntut penguasa Muslim mengambil langkah nyata, karena selama fondasi kolonialisme dibiarkan berdiri, tragedi kemanusiaan akan terus berulang. Apa yang disebut sebagai perdamaian tidak lebih dari jargon kosong yang menutupi luka mendalam bangsa Palestina.
Dengan demikian, persatuan kaum Muslim di bawah kepemimpinan yang sah dan terorganisir, termasuk pengiriman pasukan secara strategis, menjadi kunci nyata bagi pembebasan Palestina.
Wallahu a’lam bish-shawab