Sementara, dalam sambutannya Walikota Suaidi menyampaikan, ditahun 90-an, hampir sepanjang garis pantai Lhokseumawe masih dipenuhi hutan mangrove yang sangat rapat dan terpancang sebagai jangkar.Hutan mangrove mampu menangkap sentimen dan menahan partikel tanah serta memiliki kemampuan meredam energi pasang surut dan gempuran gelombang.
Kondisi terkini, sebagian besar hutan mangrove telah menghilang dari sepanjang garis pantai dalam wilayah Kota Lhokseumawe. Hilangnya hutan mangrove mengakibatkan banyaknya hilang daratan akibat terjadinya abrasi atau pengigisan pantai.

Terus menghilangnya daratan di Kota Lhokseumawe yang dipengaruhi oleh geografisnya, terjadi sejak hutan bakau musnah di sepanjang pantai.Sebelumnya, tanaman mangrove mampu membendung hantaman ombak, ketika terjadi angin Timur Laut.
Lebih jauh Walikota menjelaskan, pengikisan garis pantai di kota ini terjadi akibat hantaman ombak besar, ketika terjadi angin dari arah Timur Laut selama delapan bulan dan angin Barat Laut selama empat bulan.Angin Barat Timur Laut langsung berhadapan dengan pesisir Kota Lhokseumawe. Kondisi ini mengakibatkan tingkat abrasi pantai sangat dominan.Sehingga abrasi pantai terus meluas.
Dalam testimoninya, Suaidi Yahya menceritakan, sewaktu terjadi Tsunami di Aceh tahun 2024 lalu, hutan mangrove telah mampu mengurangi kerusakan.Peristiwa bencana nasional itu merupakan pembelajaran yang bisa kita petik, dimana kedahsyatan gelombang Tsunami mampu diredam oleh kehebatan tanaman mangrove sampai setengah energi dari gelombang Tsunami, hingga meminimalisir kerusakan.
“Perkampungan yang berada di belakang hutan mangrove yang lebat, selamat dari terjangan Tsunami. Sebaliknya kerusakan berat, serta korban nyawa banyak terjadi pada perkampungan yang berhadapan langsung dengan laut yang hutan mangrovenya rusak atau hilang sebelum Tsunami.”kenang Suaidi dalam testimoni itu. (advetorial)







