Lembaga Pengembangan Industri Aceh (LPIA) juga ikut menyampaikan materi dalam kegiatan diskusi itu. LPIA memaparkan tentang potensi ekspor briket kelapa. Selain itu juga tentang menjelaskan tentang UMKM pembuatan arang batok kelapa yang banyak ditemui di Aceh Utara.
Pemateri lainnya, Direktur PT.Pelindo tentang kesiapan logistik dan fasilitas pelabuhan dalam mendukung ekonomi Aceh. Materi terakhir disampaikan Kepala BI perwakilan Lhokseumawe, Gunawan, yang menjelaskan dukungan perbankan terhadap KEK, ekspor dan UMKM.
Dalam sesi penyampaian tanggapan, Direktur BUPP Patriot KEK Arun, Indra menjelaskan tiga permasalahan yang dialami calon investor. Diantaranya, masa sewa lahan yang singkat. Sekain tu juga masalah kurangnya pasokan listrik dan ketersediaan air ketika pabrik berdiri. “Permasalahan sewa lahan, Insha Allah akan selesai dengan PMK (peraturan menteri keuangan-red) yang memperbolehkan sewa lahan hingga 30 tahun,” ujarnya.
Sedangkan terkait untuk ketersediaan listrik, pihaknya akan berkomunikasikan dengan PJB. “Sementara pasokan air, akan teratasi dengan adanya investasi air kedepan. Doakan saja,” pungkas Indra.
Sementara itu, perwakilan Perbangkan menyampaikan senang dengan adanya program ini. Terutama terkait pengembangan usaha lidi sawit dan arang kelapa. Kesiapan dukungan dana juga disampaikan Plt. Sekda Aceh Utara Dayan Albar. “Gampong memiliki BUMG dan Dana Desa yang dialokasikan untuk ketahanan pangan. “Kalau harga mesin yang cuma 6 juta, itu mudahlah kalau Gampong ingin memajukan rakyat mereka, asalkan mereka mau,” jelasnya.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan tukar-menukar nomor kontak masing-masing. Semuanya berharap agar acara komunikasi lintas sektoral seperti ini bisa dilaksanakan lagi secara rutin untuk menciptakan sinergi antara Aparat Pemerintah, Stake Holder terkait dan para Pelaku Usaha demi kemajuan Aceh Utara dan Lhokseumawe kedepannya. (Adv)







