OPINI  

Saat Rakyat Kelimpungan, Sibuk Kontestasi Jadi Pilihan?

Untitled 1

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menerima kunjungan Ketua DPP PDI Perjuangan (PDI-P) Puan Maharani pada Minggu (4/9/2022) kemarin. Ini menjadi sinyal untuk  bisa bekerja sama dalam pemilihan presiden 2024 secara terbuka. Dan keduanya bahkan menyatakan akan terus membangun komunikasi politik.

Prabowo menyatakan, komitmen untuk terus membangun komunikasi dengan PDI-P tak lain untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Dia juga menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan sesi awal memasuki musim politik jelang Pemilu 2024. Puan juga mengatakan, dirinya dan Prabowo ke depan akan tetap terus melakukan pembicaraan yang tentu saja semata-mata tujuannya untuk bangsa dan Negara. Menurut Prabowo, peluang menggandeng Puan dalam Pilpres 2024 bisa saja terjadi. Kendati demikian, Prabowo menegaskan, kemungkinan dirinya berpasangan dengan Puan masih terlalu jauh untuk dibicarakan. Dalam pertemuan itu, Prabowo dan Puan bersepakat untuk terus membangun komunikasi politik. Kompas.com (05/09/2022).

Saat rakyat sedang kelimpungan mengatasi dampak adanya kenaikan BBM, para petinggi Negara termasuk ketua wakil rakyat sibuk mencari pasangan untuk kontestasi hingga meng make up diri agar terlihat layak mendapat kepercayaan masyarakat. Sepatutnya rakyat sadar kondisi demikian adalah watak asli sistem demokrasi. Sistem politik yang hanya melahirkan sosok pengabdi kursi kekuasaan bukan sebagai pelayan rakyat yang merasakan pederitaan mereka.

Atika
ATIKA NASUTION

Mirisnya, tak jarang mereka memanfaatkan kondisi terpuruknya rakyat demi kepentingan politik. Namun, jika menelisik konsep pemerintahan demokrasi ini bukan lah menjadi hal baru, sebab asas dari politik demokrassi adalah adanya manfaat dan kepentingan.

Wajar saja jika rakyat hanya dibutuhkan saat kompetisi pemilu saja untuk meraih kekuasaan. Selebihnya, peran dan suara rakyat diabaikan. Sistem demokrasi hanya melahirkan pemimpin yang tidak amanah dan aktivitasnya jauh dari pengurusan urusan ummat. Namun dekat dengan kepentingan para pemilik modal. Jika penguasa dan partai tidak mampu lagi untuk diharapkan sebagai pengurus urusan rakyat, maka rakyatlah yang harus menghadang kuatnya kekuasaan.

Apalagi dalam menghadang kemungkaran, ummat harus paham politik yang benar, dan ummat jangan sampai anti  terhadap politik, karena politik bukan hanya membahas sebatas kekuasaan. Dan politik yang dilahirkan dari sistem sekuler sejatinya tidak akan melahirkan pemimpin, negarawan, dan politisi sejati. Sebab, bagi mereka politik hanyalah cara meraih kekuasaan dan mempertahankannya serta menghalalkan berbagai cara untuk memenangkan kekuasaan tersebut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *